Mami :)
Mami. Ya, begitulah panggilan sayang kami; anak-anak SMA 3; kepada seorang ibu kantin di sekolah kami. Mami ini memiliki suami yang selalu setia mendampingi beliau, kami biasa memanggilnya Babe. Perkenalan saya sendiri dengan Mami ini dimulai pada saat tahun pertama memasuki SMA 3, tepatnya tahun 2007. Masih ingat sekali pada saat itu saya meminta Mami untuk mengisi buku perkenalan dan dengan ramahnya beliau menyanggupi permintaan saya. Keadaan kantin pada saat itupun masih apa adanya, Mami juga masih berjualan dengan gerobaknya itu.
Pada awalnya saya memang ke kantin hanya sekedar untuk membeli minum di tempat beliau. “Mi, es jeruk ya” atau “Mi, es teh ya”. Tapi kemudian ketika “masa nakal” di sekolah sudah mulai menjangkiti saya (bolos misalnya..) saya mulai mengamati banyaknya kakak kelas saya yang betah bolos di kios mami, hanya untuk bercerita, curhat, atau bercanda dengan beliau. Bagi saya yang merupakan siswa baru, pemandangan itu merupakan pemandangan aneh yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Karena ketika saya SMP-pun saya tidak pernah melihat kedekatan yang sebegitu rupa antara siswa dan seorang ibu kantin.
Beranjak kelas 2, saya dan teman-teman mulai dekat dengan Mami. Kami mulai berani untuk bolos, melarikan diri dari pelajaran-pelajaran yang membosankan, dan pergi ke kantin untuk berkumpul bersama teman-teman seperjuangan (bolos). Saat bolos ke kantin biasanya Mami minta tolong pada kami untuk membantu beliau masak, atau sekedar memotongkan bawang atau wortel, atau biasanya kami yang menawarkan diri untuk membantu beliau. Saya mulai mengerti. Ada sesuatu yang ‘beda’ dari ibu kantin kami ini. Mami sangat mengerti bagaimana isi pikiran kami. Kami memang bukan putra maupun putri kandungnya, tapi Mami bisa mengerti disaat kami bosan, kami jenuh, kami capek dengan kehidupan sekolah, kami merasa putus asa dengan pelajaran yang sulit. Yap, Mami selalu menemani saat-saat bolos kami lalu mengajak kami ngobrol dan bercanda. Bukan hanya itu, Mami bahkan bersedia dijadikan tong curhat kami. Baik curhatan tentang lovelife kami yang gak mutu, sampai masalah keluargapun Mami bersedia menampungnya. I know she wasn’t a fortune teller nor psychiatrist. Tapi justru nasehat beliau yang disampaikan dengan kalimat-kalimat yang sederhana itulah yang bisa membuat kami berpikir “Oh iya ya..” itulah yang sebetulnya sangat mengena bagi kami.
Ada satu hal yang benar-benar mengena bagi saya. Ketika itu saya sedang di kantin, membantu Mami memotong bawang. Memang pada waktu itu sedang santer beredar kabar tidak enak tentang saya, tapi toh saya santai saja karena kabar itu sama sekali tidak benar. Kemudian Mami bertanya: “Nduk, opo bener to kabare sing kae?”. Saya jawab “Oh yang itu to Mi. Halah ya engga Mi.. Ya ngga sampe ati lah aku kaya gitu Mi, biarinlah orang ngomong apa, mereka gatau faktanya, aku juga ga mungkin klarifikasi satu-satu, wes kadung namaku elek Mi ya gimana lagi, nanti juga lama-lama mereka tau yang bener siapa”. Lalu Mami menjawab “Iya nduk, biar aja orang ngomong gimana, Gusti Allah Maha Tau. Wes yo nduk sing sabar.. Yo kabeh ki mungkin terjadi, tapi Mami ki yo mikir kok koyone nek kasusmu iki ra mungkin ngono lho”. Wah pada saat itu perasaan saya benar-benar bahagia, masih ada orang yang bisa mensupport saya disaat saya sedang dalam keadaan susah, masih ada orang yang bisa percaya saya. Sejak saat itu, saya selalu lari ke Mami untuk bercurhat ria.
Beberapa bulan terakhir ini saya sering menjenguk Mami. Saya benar-benar merindukan keberadaan Mami di sekolah. Dirumahnya, Mami selalu menyambut hangat kami yang senantiasa menjenguknya. Kami selalu ‘diwajibkan’ untuk menghabiskan makanan-makanan kecil yang ada di toples-toples (yang tidak kecil) dengan alasan kalo dirumah nggak ada yang makan, nanti mubazir. Tapi dibalik keramahannya, kami memperhatikan keadaan Mami dirumah. Sungguh membuat saya ingin menangis. Ya Allah, Mami kurus sekali… Ketika diajak bercandaanpun sangat terlihat beliau tertawa sambil menahan sakit yang berasal dari kanker di rahimnya itu. Setiap berkunjung saya selalu bertanya pada beliau, “Gimana Mi? Enakan?” dan beliau selalu menjawab “Alhamdulillah nduk..” dengan ekspresi menahan sakit. Entah kenapa perasaan saya mulai nggak enak. Ketika ditanyai tentang keadaannya, entah sejak kapan jawaban beliau jadi “Yo ngene iki nak..” dimana jawaban itu terdengar sebagai kalimat keputus-asaan bagi kami. Kami selalu bilang pada beliau “Jangan pesimis Mi, kita akan selalu temenin Mami..” dan beliau selalu bilang bahwa kunjungan dan perkataan-perkataan kami itulah yang bisa menguatkan beliau sampe sekarang ini. Menurutnya, kunjungan anak-anaknya inilah yang merupakan salah satu terapi bagi kesembuhan beliau.
1 Agustus 2011. Semakin hari keinginan untuk terus menemani Mami dirumahnya semakin besar saja. Tanggal 2 Agustus si pacar ulang tahun. Pikir saya “Kenapa ngga dirayakan dirumah Mami saja, sekalian menemani beliau”. Jadilah saya bbm pacar.
D: “Besok kamu ulangtaun dirayain ditempat Mami aja boleh ya.. Aku yang undang temen-temen deh. Aku kangen Mami. Mami kapan itu bilang pengen buber sama anak-anaknya”
A: “Iya gapapa, sekalian juga”
D: “Don’t worry, It’ll be the best birthday you’ve ever had”
The best birthday he’ll ever had. Yes, it will be.
2 Agustus 2011. Everything went well. Walaupun Mami pada saat itu nggak puasa, momen yang kami harapkan tetap ada. Kami ngobrol-ngobrol di ruang tamu Mami, Mami bilang beliau hanya ingin di kamar saja karena badannya sakit semua. Sekitar jam 8, beliau mengeluh sakit sekali dan nggak kuat. Kami menawarkan untuk mengantar beliau ke UGD. “Mami takut dimarahin susternya..” Kalimat itulah yang terus-menerus Mami ucapkan. “Maaf ya nak kalian malah liat Mami kaya gini, maaf..” Kamipun menjawab, “Gapapa Mi, gausah kuatir, pasti kita temenin terus kok.. Ke rumah sakit ya Mi.. Kita gabisa liat Mami kaya gini terus..” lalu pada akhirnya Mami menyerah dan mengiyakan ajakan kami untuk ke RS. Segera saya siapkan seluruh kebutuhan Mami, kemudian berbondong-bondonglah kami membawa Mami ke RS. Saya sungguh sangat bersyukur kami berada di tempat yang tepat dan waktu yang tepat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Mami bila kami tidak berada disana pada waktu itu. Dengan keadaan Mami yang susah dan kesakitan untuk duduk, jelas tidak mungkin Mami dibawa oleh Babe sendirian dengan mengendarai motor. Kami sungguh bersyukur…
9 Agustus 2011. Mami tiada. Beliau meninggal pukul 4.15 pagi. Perasaan saya yang kala itu baru bangun tidur dan mengetahui kabar Mami meninggal sungguh tak terdefinisikan. Campur aduk. Benarkah ini Mamiku? Mami kami? Mimpi kan? Astaghfirullah… Sungguh nggak rela rasanya ditinggal Mami secepat ini. Di sisi lain saya senang, karena sekarang Mami udah nggak sakit lagi, Mami sudah bebas dari penderitaannya selama ini. Tapi di sisi lain pula saya nggak rela. Bener-bener nggak rela… 2 Agustus benar menjadi ulang tahun pacar yang terbaik. Karena pada hari itulah kami terakhir bertemu dengan Mami.
Mami. Beliau bukan hanya seorang ibu kantin yang menjual es teh, es jeruk, maupun tempe kuah yang enak itu. Beliau adalah guru kehidupan. Mami membuat saya yakin bahwa ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Mami mengajarkan bahwa kasih sayang itu bisa menjadi kekuatan hidup dan penopang untuk bertahan. Mami mengajarkan kami kesabaran. Mami, adalah ibu kedua bagi kami. Aku sayang Mami, Mi.. Aku kangen Mami.. Sekarang aku cerita tentang gembel ke siapa Mi.. Aku cerita tentang ayah ibu ke siapa Mi.. Bahagia disana ya Mamiku.. Selamat jalan Mi, Mami akan selalu ada di hati kami. We will always love you :’)



